Alam Kita, Kenyataan dan Harapan

Alam Kita, Kenyataan dan Harapan

Alam sebagai kado terindah dari Tuhan yang mahakuasa bagi umat manusia yang sadar dan punya makna. Alam telah begitu nyata memberikan rasa kedamaian dan ketentraman bagi jiwa kemanusiaan. Ada motif secara estetik akan eksistensi alam yang hayati lestari dan manusia yang unggul pekerti berbudi.

Kenyataan Alam Kita

Dalam konteks perubahan, banyak disinyalir para pecinta alam bahwa sains dan teknologi –selain kemanfaatgunaannya—merupakan salah satu faktor yang juga serta-merta memberikan andil besar terhadap terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Demi pendapatan perekonomian pabrik-pabrik didirikan lahan-lahan dan hutan dibabat dijadikan tempat pabrik sebagai suatu bentuk keserakahan.  Sampah dan limbah industri menjadi liar ke mana-mana. Iklim dan cuaca tak lagi menentu. Dirasakan sebagai efek “rumah kaca” yang dapat mengganggu konsentrasi lapisan ozon. Akibat perbuatan manusia yang semena-mena. Para petani pun mengeluh karena kegagalan demi kegagalan seringkali diakibatkan iklim dan cuaca. Akibat industrialisasi, polusi udara di kota-kota besar juga sangat mengganggu pola sehat dan tata kehidupan, merubah adat-istiadat dan perilaku umat manusia.

Kondisi lingkungan hidup sedemikian parah tercemar oleh berbagai kepentingan dan nafsu kekuasaan dan keserakahan sebagai suatu kenyataan hari-hari yang acapkali disinyalir berbagai media dan para pemerhati lingkungan sebagai sebentuk ketololan manusia itu sendiri. Kemacetan dan polusi akibat industrialisasi yang tak lagi mengindahkan lingkungan tak terelakan sebagai fakta yang menjadi persoalan serius sang pembangunan.

Banjir di perkotaan yang doyan datang bertandang akibat drainase yang bermasalah dan akibat minimnya daerah tanah resapan. Sampah-sampah industri pun merecoki kenyataan pencemaran sungai-sungai, baik sampah dari rumah tangga, maupun dari individu lainnya yang sungguh-sungguh tak mau peduli.

Bunga-bunga kini lebih banyak ditemukan di pasar-pasar bunga yang diperuntukan sekedar untuk hiasan atau semacam buat kado ucapan belasungkawa bagi keluarga si mati. Pohon-pohon dibonsai dikerdilkan dan dijungkirbalikkan dan kemudian akar-akarnya yang diberi daun sebagai sebuah pesudo keindahan.

Sebuah logika yang jungkir balik mengubah gaya hidup pandangan masyarakat industri menjadi begitu pragmatis. Hanya memikirkan kebutuhan-kebutuhan sesaat bukan jangka panjang. Terbuktikan lumpur lapindo pun menjadi isu internasional sebagai kenyataan sebentuk keserakahan manusia yang eksploitatif. Dan menangkap ikan pun dengan cara dibom demi keuntungan seuntung-untungnya.

Perubahan pola hidup dan cara pandang dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam menyikapi lingkungan hidup. Si kuasa cenderung bersikap apatis terhadap alam akibat perkembangan industrialisasi sains dan teknologi yang menuntut untuk diujicobamaterikan. Padahal kegiatan industri, sains dan teknologi pun sejatinya mesti memiliki daya potensi yang bukan berwatak murni ekspoitatif tetapi sejatinya adalah sains dan teknologi yang ramah lingkungan.

Gara-gara watak individu manusia yang serakah, burung-burung pun kini banyak yang sudah kehilangan kebebasannya. Mereka hidup dalam kurungan sangkar, bahkan suaranya sengaja dipersaingkan dalam ajang “judi”. Sebuah kenyataan seiring nasib hutan digunduli, dibabati atau dibakar api demi dalih pengolahan dan cita-cita industri. Burung-burung indah sebagai pengendali mutu alam semesta sebagai matarantai dari suatu ekosistem kehidupan sebagai “kuncen” hutan-hutan lindung, kini kenyataannya memang sudah mampir ke pasar-pasar burung ke ajang-ajang judi, diperjualbelikan atau dipersaingkan demi sebuah kesenangan dan keisengan yang melampaui batas.

Pertanyaannya sekarang adalah beranikah kita melepaskan burung-burung itu, membiarkan mereka bebas mengembara dan “bertasbih”? Atau burung-burung itu sendiri justru apakah merasa mesra dan betah disangkarkan, diberi makan yang enak-enak tanpa mesti susah mencari, ya katakanlah ketimbang hidup di luar sangkar yang serasa susah dan terancam ditembaki atau dibakar api?

Hanya sang pencipta dan nabi Sulaiman yang tahu bagaimana perasaan burung-burung itu. Yang jelas dengan disangkarkannya burung-burung itu, mereka nampaknya kehilangan kebebasannya, serasa nyanyian-nyanyiannya adalah jeritan kaum burung yang terluka. Burung-burung itu merupakan bagian hukum alam sebuah ekosistem lingkungan kehidupan yang mesti lestari.

Harapan Alam Kita

Alam semesta telah memberikan banyak makna dan arti bagi kehidupan dan penghidupan kita. Tapi mungkin kita seringkali memalingkan mata batin dari rasa-rumasa: insyaf akan kebaikan alam kepada kita. Bagaimana alam telah begitu rupa memberikan segala kemudahan dan manfaat bagi penghidupan. Lantas, ungkapan macam bagaimana sebagai rasa syukur kita atas karunia Tuhan itu?

Sebagai makhluk religius, kita patut merenung atas kebaikan Tuhan yang menganugrahkan alam untuk kita maknai dan manfaatkan sebaik-baiknya berdasarkan pertimbangan madarat dan maslahatnya. Maka, kita patut melestarikan alam. Hati kita bersihkan. Pikiran kita jernihkan untuk menghayati dan mengamalkan gairah kerja bagaimana dan mesti apa sebaik-baiknya terhadap alam. Betapa alam semesta yang hijau bersemestakan kedamaian adalah sebuah angan-angan yang layak diwujudupayakan.

Jadikan alam ini sebagai ibu yang pantas sejatinya kita cintai karena dengan segenap kasih-kudusnya telah membuat kita berada dalam kedamaian dan rasa manfaat serta tumbuh dan hidup kita berkat dukungannya jua. Alam adalah ibu yang telah mewarisi nilai-nilai luhur di mana kita dapat mengemban hidup sebagai sebuah pilihan yang berdayamanfaat.

Ya mula-mula kita membersihkan pikiran dan menjernihkan kembali kehendak pikiran dan perasaan terhadap alam untuk kemudian kita membangun jiwa solider terhadap alam. Dengan kata lain, memulai langkah dengan menginstal pikiran dan perasaan serta menyimpan file-file kepedulian terhadap lestarinya alam lingkungan. Bukan tangan yang kuasa menjaga alam melainkan sejatinya adalah pikiran dan perasaan yang padu dalam kesadaran.

Alangkah indahnya kita yang mengaku sebagai makhluk religius, berpulang pada pemahaman dalil-dalil agama (anti kekacauan) di mana semua agama tak menghendaki akan kegiatan kuasa tangan untuk mengeksploitasi bumi secara rakus berlebih-lebihan tanpa memperhitungkan untung dan rugi bagi kelangsungan kehidupan itu sendiri.

Sarvo vai tatra jivati, gaur-asvah purusah pasuh. Yatredam brahma kriyate, paridhir jivanaya kam. (Atharvaveda.2.25).

Artinya, siapa saja, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan akan hidup dengan selamat, kalau kebersihan atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup.

Semua agama (anti kekacauan) selalu menyarankan akan pentingnya kita menjadi pembina dan pelestari lingkungan hidup. Namun yang menjadi persoalan sekarang sebagai renungan lebih tepatnya sebagai gugatan adalah seberapa tertanam dalil-dalil, perintah-perintah agama itu dalam sanubari kita bukan semata sebatas pengingatan atau peringatan melainkan sebagai sebentuk hal ‘kegiatan aksi” yang segera dibuktinyatakan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS. Ar-Ruum (30) : 41]

Para kiyai seringkali mengutip ayat itu. Pertanyaannya sekarang sebagai sebuah renungan. Seberapa peduli para kyai merealisasikan konsep itu untuk melestarikan alam? Apakah mereka hanya sebatas teks wacana saja sebagai anjuran basa-basi? Seberapa munafik mereka? Dan seberapa jujur mereka? Apakah mereka para kyai yang mendakwahkan dalil itu tidak berbuat yang menguatkan akan sebuah tindakan pengrusakan lingkungan dengan misal melakukan praktek kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan besar yang anti lingkungan (termasuk perusahaan minuman keras)? Apakah para kyai menjadikan dalil itu sebagai dalih untuk yang padahal mereka mencari keuntungan materi kekayaan baik langsung maupun tidak langsung dari kegiatan mendukung perusahaan besar yang doyan merusak lingkungan itu? Ini sebagai renungan saja, bukan fitnah.

Maka jika para kyai yang demikian yang sudah bertindak gugup dan kacau secara tak langsung telah merendahlemahkan posisi Tuhan dan nabi sebagai pembawa kedamaian.  Dalil agama itu sejatinya dijadikan sandaran kekokohan sikap kita (siapa pun kita) untuk benar-benar peduli lingkungan. Peringatan dalil itu perlu diimani dengan sikap penuh kesadaran dan keinsyafan.

Kegiatan yang bersifat sains dan teknologi penting diselaraskan dengan kehendak dalil-dalil agama. Sains dan teknologi tak perlu merasa berdosa, tapi sains dan teknologi perlu disepadankan dengan masa depan umat manusia. Semua agama tentu menentang segala bentuk pengrusakan lingkungan dan pencemaran alias polusi.

Simpulan

Yang harus kita perbuat dalam rangka menjaga lingkungan hidup kita agar tetap terpelihara secara bijaksana dan terberdayakan secara maslahat, adalah kita perlu mengubah pola pandangan kita terlebih dahulu atau menguatkan pemahaman yang sudah ada tentang pentingnya melestarikan lingkungan. Bahwa betapa pentingnya kita berbuat melestarikan lingkungan hidup terutama pada sikap kita terhadap alam semesta di mana kita hidup dan dihidupi. Artinya adalah pembenahan dan penataan ruang pikiran dan perasaan kita semacam katakanlah sebuah “restorasi” untuk salawasna mengukuhkan rasa cinta terhadap lingkungan.

Mari kita memulai dari diri kita sendiri. Mari kita insyaf dan bijaksana terhadap lingkungan sendiri! Bermula dari kesadaran itu untuk kemudian bagaimana menciptakan generasi-generasi yang memahami betapa pentingnya alam bagi masa depan. Generasi yang penuh harga, yang sadar lingkungan. Contoh kecil, seberapa banyak orang yang benar-benar sadar membuang sampah pada tempatnya? Marilah memulai dari hal kecil, melakukan konservasi kecil-kecilan. Memberi bimbingan kepada anak-anak agar selalu sadar mesti solider terhadap alam di mana alam pun secara simbiosis-mutualisme akan berbuat baik juga demi kelangsungan masa depan bersama.

Tak ada yang sulit untuk mengubah kebiasaan jelek seperti kurang peduli pada kebersihan lingkungan, selama ada kemauan menjadikan diri sendiri kokoh sebagai pelaksana sekaligus pembina. Seterusnya, mendidik anak-anak kita untuk ramah terhadap lingkungan. Lalu aktif menyebarkan sikap positif terhadap lingkungan baik secara person to person maupun melalui komunitas-komunitas. Suara-suara ramah lingkungan, corong-corong kepedulian sejatinya terus digemakan dan dijayakan sebagai “dakwah” kemanusiaan.

Memang untuk mengembalikan lingkungan hidup dan alam pada keberdayamanfaatan yang perlu dengan rasa solider yang kuat dan tak saling mencedrai, menodai dan mencemari — yang justru saling menguntungkan– diperlukan pembenahan berbagai sektor: budaya, ekonomi, sosial, pemerintahan, sains dan teknologi serta kebijakan pemerintah menyangkut regulasi dan sanksi bagi si perusak alam dan lingkungan. Namun upaya melestarikan alam lingkungan melalui berbagai sektor itu akan sia-sia kalau mula-mula tak tumbuh dari itikad diri sendiri. Kalau mula-mula tak tumbuh dari sendiri, nantinya ditakutkan hanya akan menjadi sebatas basa-basi belaka atau seperti para kyai yang sekedar menjual dalil berkedok mencari keuntungan.

Kita sebagai makhluk janganlah menjadi makhluk yang egois yang mementingkan kepentingan “kesekarangan” dan nafsu belaka. Kita perlu memikirkan generasi yang akan datang jangan sampai alam sebagai bagian dari lingkungan hidup sebagai sumber kehidupan energinya kita habiskan. Lingkungan kita camarkotorkan.  Generasi yang akan datang adalah generasi penerus dan pewaris yang mesti beroleh selamat dan manfaat.

Ada pepatah dari si anonim. “Tanamlah pohon hari ini, meskipun kau tau esok adalah hari kiamatmu!” Artinya pepatah tersebut mengandungi spirit untuk “hidup sebenarnya hidup” dan sebagai inspirasi kuat untuk menghormati hari depan. Bahwa apa yang ditanam hari ini sangat berguna bagi hari esok sebagai tanaman keberkahan. Tak peduli sebagai si penanam mati secara “jasad” tetapi jasa kebaikannya bermanfaat mengkonservasi kehidupan dan kemanusiaan. Ya, adagium itu merupakan mindset bahwa dalam hidup kita sejatinya adalah untuk bermanfaat bagi apa, siapa dan bagaimana pun hari-hari selanjutnya.

Kerja belum selesai belum apa-apa, kata almarhum sastrawan Chairil Anwar.

Opini Lukman Ajis Syalendra

 

Alam Kita, Kenyataan dan Harapan

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.