Burung Enggang, Satwa Langka yang harus Dilestarikan

Keberadaan burung Enggang atau yang lebih terkenal dengan nama Rangkong saat ini sudah mulai langka. Untuk mencegah terjadinya kepunahan, maka seharusnya ada tindakan serius dari berbagai pihak berwenang supaya keberlangsungan hidupnya tetap terjaga.

Sekilas Tentang Burung Enggang

Burung Enggang merupakan jenis yang populasinya tersebar di seluruh dunia. Berdasarkan data-data penelitian, terdapat lima puluh tujuh spesies untuk bisa hidup di muka bumi ini walau sekarang Ia sudah mulai punah.

Burung Enggang merupakan kelompok mudah dikenali karena ciri fisik tubuhnya. Ciri khas ini dapat ditemui pada ukuran paruhnya yang besar dengan struktur tambahan di bagian atasnya, disebut dengan balung. Di Indonesia terdapat tiga jenis yang dinyatakan endemik.

Spesies endemik merupakan gejala dimana sebuah biota menjadi unik di geografis tertentu. Wilayah itu  berupa negara atau zona dan Enggang endemik yang bisa ditemui di Indonesia yaitu, Julang Sulawesi (Aceros cassidix), Sumba (Rhyticeros averitti) dan Kangkareng (Penelopides exarhatus).

Ciri Tubuh Burung Enggang

Enggang klihingan memiliki ciri bulu utama hitam dan ekornya dua warna. Jenis kelamin betinanya mempunyai paruh kekuningan suram, sehingga membuatnya berbeda dengan yang lainya.

Selanjutnya, Enggang jambul memiliki deskripsi tubuh sebagai berikut:

  • Memiliki ekor panjang berwarna putih.
  • Jambulnya kucel dengan warna keputihan.
  • Ujung sayap berwarna putih.
  • Jenis kelamin betina pada bagian bawahnya berwarna hitam.
  • Julang jambul hitam memiliki ciri jantan tanduk merah dan mahkota hitam.
  • Pangkal ekor hitam.
  • Ekor biasanya bernoda kekuningan.
  • Julang emas kulit sekitar mata merah jambu.
  • Paruh bawahnya berkerut.
  • Pada kantung tenggorokan ada garis berwarna hitam biru gelap.
  • Julang dompet berukuran lebih kecil dari emas.
  • Tidak ada kerutan pada paruh bawahnya.
  • Tidak ada garis gelap pada kantung tenggorokannya.
  • Kangkareng hitam.
  • Bulu utama hitam.
  • Tanduk pada jantan berwarna gading dan betina hitam, kadang-kadang mempunyai garis putih mulai dari mata sampai tengkuk.
  • Kangkareng perut memiliki warna
  • Totol di bawah mata berwarna putih.
  • Tanduk pada betina lebih kecil dan lebih kehitaman dari pada jantan.

Enggang badak seperti pada gambar burung yang Anda lihat memiliki ciri sebagai berikut:

  • Tanduk melengkung ke atas
  • Ekor bergaris hitam
  • Pada betina mirip dengan jantan, tetapi matanya berwarna keputih-putihan sampai biru pucat. Enggang papan pada jantan memiliki tanduk datar berwarna kuning.
  • Sayap bergaris pucat.
  • Betina mirip jantan, mata putih, pada tanduk terdapat warna hitam lebih banyak.

Karakteristik Burung Enggang

Burung Enggang diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Kingdom: Animalia
  • Phylum: Chordata
  • Subphylum: Vertebrata
  • Class: Aves
  • Super ordo: Neognathae
  • Ordo: Coraciiformes
  • Family: Bucerotida

Terdapat 45 jenis burung Enggang yang tersebar luas di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat 13 macam yang terdiri dari 7 genus yaitu Annorhinus, Penelopides, Berenicornis, Rhyticeros, Anthracoceros, Buceros dan Rhinoplax.

Mereka semua yang tersebar luas di hutan-hutan seluruh Indonesia meliputi:

  • Sumatera (9 jenis)
  • Jawa (3 jenis)
  • Kalimantan (8 jenis)
  • Sulawesi (2 jenis)
  • Irian Jaya (1 jenis)

Habitat Burung Enggang

Tidak seperti burung Gagak, Enggang hanya dapat dijumpai di hutan dataran rendah dan perbukitan. Hal tersebut bisa dijadikan tempat tinggalnya karena di sana. Pada tajuk utamanya, didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae.

Akan tetapi, jenis-jenis Leguminoceae seperti Kempas kompassia dan Merbau intsia membentuk tajuk yang menjulang tinggi dan lebih menonjol. Batangnya yang besar dan tidak bercabang didukung oleh akar banir.

Keseluruhan jenis itu dihiasi oleh tumbuhan yang merambat, epifit dan pohon ara melimpah. Pada hutan perbukitan Dipterocarpaceae mendominasi punggung bukit. Sisi yang terjal ditutupi oleh campuran kaya dengan relung burung.

Tanah longsor yang sering terjadi membentuk susunan komunitas tumbuhan dalam berbagai tahap suksesi yang berbeda. Hutan ini juga merupakan yang paling kaya dengan beranekaragam burung termasuk Enggang.

Ketersediaan pohon yang berfungsi sebagai tempat sarang merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi julang emas untuk membesarkan anak. Di sisi lain, juga mendukung eksistensinya agar tidak mengalami kepunahan.

Salah satu syarat pohon yang dijadikan habitat sarang julang emas yakni, ukuran diameter batang yang sesuai dengan besar tubuhnya. Ia merupakan frugivorous di samping juga mengkonsumsi beberapa jenis binatang seperti kumbang, sehingga ada yang mengelompokkannya sebagai omnivora.

Makanan Burung Enggang

Salah satu sumber makanan yang disukai burung Enggang yaitu tumbuhan Ficus. Dengan melimpahnya jenis tersebut saat ini, maka Ia akan lebih senang berpindah ke habitat lain secara berkelompok.

Selama ini yang menjadi makanan pokok bagi burung Enggang adalah buah ara dari pohon Ficus yang merupakan kunci bagi kelestarianya di muka bumi. Bahan pakan tersebut banyak tersedia di gunung Unggaran Jawa Tengah.

Gangguan dan Ancaman Terhadap Burung Enggang

Burung merupakan salah satu jenis satwa yang sangat terpengaruh keberadaannya akibat alih guna lahan hutan, terutama pada monokultur seperti perkebunan kelapa sawit dan karet. Hilangnya pohon dan tumbuhan semak menyebabkan hal menyedihkan.

Hilangnya tempat bersarang, berlindung dan mencari makan berbagai jenis burung merupakan ancaman baru bagi kelestarian hidup spesies tersebut. Sementara, mereka memiliki peran penting dalam ekosistem, antara lain sebagai penyerbuk, pemencar biji dan pengendali hama.

Burung ini juga seringkali digemari oleh sebagian orang dari suara dan keindahan bulunya. Sampai saat ini, Sumatera masih memiliki kawasan berhutan, meskipun sebagian besar sudah terfragmentasi dan mengalami tekanan yang cukup tinggi

Kerusakan hutan yang terjadi pada kawasan di Indonesia, terjadi oleh sebab berbagai faktor yang sebagian besar dikarenakan oleh aktivitas manusia  itu sendiri dan lainnya dikarenakan bencana alam kuasa Tuhan.

Pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan persediaan lahan, akan mendorong terjadinya penjarahan pada kawasan hutan. Meningkatnya pembukaan jantung dunia itu menjadi perkebunan dan pertanian, mengakibatkan semakin berkurangnya habitat bagi satwa terutama burung Enggang.

Di samping itu, seperti burung pipit, Enggang juga sangat rawan diperjualbelikan manusia sebagai hewan peliharaan, hiasan atau pun dimanfaatkan untuk memenangkan suatu perlombaan tertentu.

Status Konservasi Burung Enggang

Menurut UU No.7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa, seluruh jenis Enggang (Bucerotidae) merupakan hewan yang dilindungi. Berdasarkan Daftar Merah IUCN, kelompok tersebut termasuk spesies yang hampir mengalami kelangkaan.

CITES juga mengklasifikasikan satwa burung ini ke dalam kategori Appendix II (dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena hampir mengalami kelangkaan, kecuali jika proses dagang tersebut tunduk pada peraturan ketat, sehingga pemanfaatan yang tidak sesuai dapat dihindari).

Saat ini, konservasi serta penangkaran terhadap burung Enggang sudah mulai dilakukan di beberapa Suaka Margasatwa serta Taman Nasional dalam wilayah Indonesia. Sehingga, persebaran liar yang memungkinkan Ia punah secara perlahan sudah mulai bisa diatasi walaupun dengan jangka kecil.

Demikianlah penjelasan mengenai burung Enggang, mulai dari habitanya hingga usaha proses koservasinya agar bisa tetap lestari hidup di alam ini. Semoga sedikit pengetahuan pada artikel ini dapat memberikan manfaat serta inspirasi untuk menumbuhkan kesadaran cinta satwa liar.

Tinggalkan komentar