Home » Jenis Burung » Mengenal Burung Maleo, Si Unik dari Sulawesi Selatan

Mengenal Burung Maleo, Si Unik dari Sulawesi Selatan

Apakah Anda pernah mendengar nama burung Maleo? Ya, ia memang agak asing di telinga masyarakat Indonesia, apalagi bagi mereka yang masih awam. Namun, hewan dari Sulawesi Selatan tersebut memiliki keunikan tersendiri sehingga populasinya sangat dijaga supaya tidak punah.

Klasifikasi Habitat Burung Maleo

Burung bernama ilmiah Macrocephalon maleo ini berasal dari Megapodiidae yang mana di dalamnya terdapat 22 spesies berada pada tiga genus utama yakni Eulipoa, Megapodius, dan Macrochepalon. Ia memiliki habitat asli di daerah Sulawesi Selatan.

Burung Maleo tergabung pada genus Macrochephalon. Ia adalah satwa asli endemik Indonesia yang sudah mulai langka saat ini, sehingga harus dilindungi dengan dibuatkan penangkaran atau dipelihara di suaka margasatwa. Masyarakat pun dilarang secara sembarangan memeliharanya.

Secara mendetail, klasifikasi dari burung Maleo berdasarkan kacamata pengetahuan ilmiah adalah sebagai berikut:

  • Kingdom : Animalia
  • Filum : Chordata
  • Kelas : Aves (Burung)
  • Ordo : Galliformes
  • Family : Megapodiidae
  • Genus : Macrochephalon
  • Spesies : Mecrochephalon Maleo

Ciri Morfologi Burung Maleo

Burung Maleo mempunyai bentuk tubuh unik serta warna yang berbeda dengan unggas pada umumnya. Sehingga, ia sangat diminati wisatawan dari berbagai negara ketika mereka berkunjung ke Indonesia. Apa saja keunikanya?

Jika Anda melihat gambar burung yang satu ini, maka sekilas besarnya hampir sama dengan ayam betina peliharaan warga dengan bobot sekitar 2 kg. Bulunya berwarna hitam, putih serta merah jambu yang sangat muda.

Bulu-bulu tersebut menyebar di seluruh badan burung. Masing-masing anggota tubuh dengan warna berbeda, yaitu hitam pada bagian dada, putih di kaki, dan merah jambu mencolok di sisa tubuhnya yang lain.

Secara terperinci, inilah detai dari ciri-ciri bagian tubuh yang dimiliki oleh burung Maleo:

  • Memiliki ekor yang tegak dan panjang. Hal inilah yang membuatnya semakin unik dan menarik.
  • Paruhnya lumayan besar, kokoh, lancip dan memiliki warna kelabu sehingga sangat cantik.
  • Kulit wajah dan lingkaran di sekitar matanya berwarna kuning agak pucat.
  • Biji mata berwarna hitam sehingga membuatnya sedikit memiliki karakter keras.
  • Panjang sayap jenis jantannya 292 mm dan betinanya 302 mm.
  • Anak burung yang baru menetas diperkirakan mempunyai berat tubuh 109-169 gram.

Perlu diketahui juga bahwasanya burung tersebut memiliki gerakan sayap yang sangat keras karena berat tubuhnya lebih besar dibandingkan lainnya. Ia harus hinggap antara satu pohon dengan lainya untuk mengantisipasi kecapean pada saat terbang di udara.

Burung ini memiliki pengaturan suhu tetap serta bulu yang tebal sehingga ia sangat mungkin untuk hidup di daerah sangat dingin sekalipun. Pada kepalanya terdapat benjolan warna hitam dengan fungsi sebagai pendingin otak dari sengatan terik matahari pantai serta mengukur temperatur tanah.

Habitat dan Penyebaran Populasi

Burung Maleo memiliki habitat asli dari  Sulawesi yang memiliki keunikan yaitu cara bertelur dan ukuran telurnya yang berukuran 5 kali lebih besar dari telur ayam. Selain itu, ia juga tergolong unik karena memiliki sifat setia kepada pasangannya.

Populasi burung Maleo dari tahun ke tahun semakin menurun yang disebabkan oleh kerusakan habitat baik itu perburuan liar  maupun alih fungsi lahan. Oleh sebab itu, satwa ini memiliki resiko kepunahan  sangat tinggi jika dibiarkan terus-menerus tidak ada perawatan.

Peristiwa ini membuktikan bahwa status perlindungan belum mampu menekan laju penurunan populasi di alam, sehingga tindakan penyelamatan perlu dilakukan, yaitu melalui tindakan konservasi terhadap kelestarian burung langka ini.

Burung Maleo merupakan satwa yang dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan secara umum berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 421/KPTS/UM/8/1970 dan SK Mentan Nomor 90/KPTS/UM/2/1997.

Sejak tahun 1990 berdasarkan SK. Nomor Kep. 188.44/ 1067/RO/BKLH tanggal 24 Februari 1990 Maleo ditetapkan sebagai Satwa Maskot Propinsi Sulawesi karena burung tersebut tidak bisa ditemukan di daerah lain dan hanya ada di sana.

Ciri-Ciri dan Karakteristik Telur Burung Maleo

Berat telur burung Maleo berkisar antara 178-267 gr dengan panjang 92,1- 112,6 mm dan diameter 57,6-65,5 mm. Komposisi telurnya didominasi oleh warna kuning yang menunjukkan tingginya kandungan gizi.

Telur Maleo didominasi warna kuning karena kandungan tersebut merupakan persediaan makanan bagi anak-anaknya selama masih dierami. Ukuranya lebih besar dari pada punya ayam sehingga penetasan terjadi sangat lama.

Oleh sebab lamanya waktu penetasan, telur Maleo menjadi berwarna kuning pekat. Peristiwa itu menyebabkab anak burung yang masih sangat kecil langsung bisa terbang setelah beberapa saat berhasil menetas ke dunia ini.

Cara bertelur burung ini yaitu dengan membuat lubang atau liang dalam pasir sekitar pantai dan daerah yang memiliki panas bumi cukup. Untuk melanjutkan keturunannya, ia tidak mengerami telurnya sendiri melainkan di kubur dalam tanah atau perpasiran hangat.

Berbeda dengan burung Pipit, biasanya di titik yang memiliki suhu cukup hangat Maleo akan menggali lubang sedalam 30 sampai 50 cm. Lalu meletakkan telurnya dan menutupnya kembali dengan tanah sekitar 10 sampai 15 cm di atas telur.

Lokasi Penangkaran Burung Maleo

Cagar Alam Panua merupakan Hutan Konservasi karena terdapat satwa endemik atau langka, misalnya hewan-hewan seperti burung Maleo yang sampai saat ini memiliki habitat terbesar di tempat penangkaran tersebut.

Kawasan Cagar alam Panua saat ini sudah mengalami alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan pertambangan oleh masyarakat setempat karena dekat dengan pemukiman warga. Karena adanya pengalihan itu, hal ini menyebabkan degradasi vegetasi, tekstur tanah, dan faktor lingkungan lain.

Peristiwa ini akan sangat berpengaruh pada habitat di sekitar lokasi peneluran yang digunakan oleh induk untuk memendam dan melakukan pengeraman telur secara lebih optimal demi menghasilkan anakan berkualitas tinggi.

Kawasan Cagar Alam Panua merupakan populasi terbesar dari burung Maleo di Gorontalo. Terdapat tiga jenis burung yang hidup disana yaitu Melintas, Sebaran yang berada di sekitar hutan untuk mencari makan, dan Peneluran di sekitar pesisir pantai.

Sampai Saat ini walaupun Kawasan Cagar Alam Panua memiliki ukuran yang relatif luas, namun ketersediaan data dan informasi tentang karakteristik habitat tempat bertelur burung ini masih sangat kurang.

Selain itu, juga belum ada penelitian khususnya tentang karakteristik habitat tempat bertelur burung Maleo. Melihat akan hal ini, maka seharusnya pemerintah yang memiliki kewenangan bertindak cepat dalam melakukan perbaikan secara masif dan progresif.

Makanan Burung Maleo

Seperti halnya burung unta, Maleo dapat diberi asupan makanan dalam habitat aslinya maupun saat ia diletakkan pada kawasan konservasi penangkaran untuk mengurangi proses kepunahan yang meliputi:

  • Biji-bijian
  • Buah-buahan
  • Cacing
  • Kupu-kupu
  • Semut
  • Kepiting
  • Belalang
  • Kacang hijau
  • Kacang tanah
  • Tauge
  • Kangkung
  • Ulat Hongkong
  • Pepaya

Demikianlah penjelasan mengenai burung Maleo, mulai dari habitanya hingga usaha proses penangkaranya agar bisa tetap lestari hidup di alam ini. Semoga sedikit pengetahuan pada artikel ini dapat memberikan manfaat serta inspirasi untuk menumbuhkan kesadaran cinta satwa.

Tinggalkan komentar